Showing posts with label Cerpen-Ku. Show all posts
Showing posts with label Cerpen-Ku. Show all posts
Wednesday, May 2, 2012
Cinta Tiada Duanya
Sudah tiga
hari aku dibuat Nia
gelisah. Tanpa alasan, Nia
berubah. Biasanya tiap pagi dia sms aku meminta soal untuk ditanyakan pada gurunya. Sekalipun kelas kami berbeda, aku selalu
mencoba menjadi sosok yang terbaik di hadapannya dengan menyuplai
pertanyaan-pertanyaan brilian untuknya. Tak hanya itu, aku juga berusaha
menjadi manusia jenius serta menjadi orang yang selalu perhatian padanya.
Tiga hari
ini, setelah aku pulang kampung ke Solo,
kutemukan ada yang berbeda dengannya. Padahal dulu dia memintaku tak berubah.
Memang
seperti inilah resiko berhubungan tanpa status dengan Nia. Apa benar dugaanku
selama ini, bahwa dia memang cewek tipe “ekspoitator”. Cewek yang hanya bisa
memanfaatkan lelaki yang dekat dengannya. Jika memang demikian, maka malang
sekali nasibku.
Tapi, kalau
memang yang diinginkannya seperti itu, ya silahkan saja. Dia tak salah. Memang
salahku sendiri menyukai gadis yang tak jelas sepertinya. Aku masih punya
banyak kenalan wanita-wanita lain yang mau kuajak maju.
Wednesday, April 18, 2012
Koruptor Junior
Setelah lulus
SMA dan kuliah di universitas sebelas maret selama satu tahun, Hamid juga
menjadi pengajar taman pendidikan Quran (TPQ) di masjid at Taqwa di Solo. Hamid
merasakan nikmatnya merawat anak-anak orang kaya yang masih mau diajarkan
membaca dan menulis al-Quran. Meski gajinya hanya empat ratus ribu rupiah
perbulan Hamid sudah merasa senang sebab sejak dulu Hamid memegang prinsip. “Khoirukum
man ta'allama al Quran wa 'allamahu”. Sebaik-baik manusia di antara kamu
adalah orang yang belajar dan mengajar quran.
Pengalaman
selama satu tahun itu membuatnya mengenal dekat anak-anak kecil itu beserta
orang tuanya. Seringkali orang tua mereka mengajaknya makan di rumah mereka.
Bahkan pernah ditawari menikah dengan salah satu pejabat pemerintah kota Solo.
Tapi Hamid menolaknya karena orang tuanya melarang menikah selama Hamid masih
menjadi mahasiswa. Kalau saja tawaran itu diberikan saat Hamid sudah lulus,
Hamid pasti menerimanya.
Sunday, April 15, 2012
Keajaiban untuk Annisa
Nisa sedang asyik di dalam kamarnya. Dia
memandangi kamar yang baru saja dimodifikasi orang tuanya. Kini ruangannya
serba berwarna biru muda. Dari cat tembok, sprei, korden jendela dan semua
barang-barang yang ada dalam ruangannya berwarna biru.
Esok hari,
kelulusan SMA se-Nusantara akan diumumkan. Nisa termasuk salah satu siswa yang
akan melihat namanya dalam papan pengumuman. Pada detik ini, dia sedang murung
di kamar bukan karena kelulusan tapi memikirkan agenda perpisahan bersama tujuh
rekan komplotannya.
Nisa berselancar di internet
mencari lokasi-lokasi wisata menarik di Yogyakarta. Cukup lama dia mencari tak
juga menemukan lokasi eksotis. Dia membuka facebook dan chat dengan beberapa
orang. Beberapa usulan tempat wisata didapatkannya dari teman-temannya.
Diantaranya adalah Gunung. Karena belum pernah mendaki gunung, usulan itu
dipilihnya.
Monday, April 9, 2012
TEKAD DA’I MUDA*
Dua hari lagi
usia Mulyadi
genap dua puluh satu. Usia muda, masih cerah dengan harapan-harapan yang
menyeruak dalam pikiran. Dia mengharapkan sesuatu yang spesial hadir di ulang
tahunnya.
Mulyadi
melamun di belakang rumahnya sambil mendengar lantunan surat Ali Imran dari
ponselnya. Begitu indah susunan ayat-ayatnya, begitu menakjubkan hati
makna-maknanya. Dalam lamunannya, dia masih berusaha melakukan aktifitas dengan
memberikan makan ternak ayam dan burung dara. Tangannya menggenggam jagung yang
telah digiling khusus untuk makan ternak. Ya, tiap hari kerjaannya hanya
sebagai peternak ayam dan kambing.
Saturday, April 7, 2012
INILAH AKU ANAK PETANI DESA
Aku anak desa,
bapakku petani biasa. Petani desa yang tak pernah mendapatakan
teori-teori pertanian di bangku kuliah. Petani kuno yang menanam padi sesuai
dengan tradisi desa yang turun-temurun. Aku kagum dengan petani-petani desa,
terutama dengan bapakku. Dia punya filosofis yang menakjubkan.
“Sejak dulu hingga sekarang, petani selalu menjadi
masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Tapi kenapa kami tak
berganti profesi. Karena petani bahagia bisa melihat padi yang ditanam bisa
tumbuh dengan hijaunya. Itu sama dengan menghidupkan satu nyawa,” begitu kata
bapakku suatu waktu.
Yang buatku kagum
dengan petani lagi karena mereka tak pernah risau dengan pergantian penguasa
negara, tak iri melihat PNS yang digaji negara.
Wednesday, April 4, 2012
SELAMANYA NISA
Malam ini kudapat melihat kejora nan indah di langit. Dalam sendiri,
kulihat foto-foto Nisa. Satu persatu kulihat wajah ayunya. Sangat
menawan. Aku heran kenapa gadis secantik dia mau menjadi kekasihku.
“Tiiiiit....,” nada sms masuk membuyarkan lamunanku. Dari Nisa.
“Aku nggak bisa tidur, Mas,”
Kubiarkan sms itu. Aku ingin berkontemplasi tanpa ada yang mengganggu.
Pokoknya malam ini aku harus bisa memutuskan. Melanjutkan hubungan atau
mengakhirinya.
Tuesday, April 3, 2012
PENGUBAH HARIKU
Untuk kesekian kali, aku berusaha
menguasai relung hati seorang gadis dengan suaraku. Suara sumbang yang jika
terdengar di telpon mampu membandingi suara Mario Ginanjar, vokalis Kahitna.
Dulu Rina, Uhti, Nida dan Vera pernah kutaklukkan dengan suaraku.
Kadang pula, kumenikam hati seorang
gadis dengan tulisan-tulisan indahku. Icha, Nia dan Nita pernah mengangguk
bahagia setelah kujerat hatinya dengan puisi-puisi cintaku. Tapi Nur, belasan
puisiku belum juga mampu meluluhkan kasihnya. Lagu-lagu romantisku sedikitpun
tak menyentuh cintanya.
Suara merduku pernah didengarnya berulang
kali. Hampir tiap hari. Jika malam tiba, kutembangkan lagu-lagu mesra lewat
telpon hingga suaranya tak lagi kudengar karena lelap dalam tidurnya. Sesekali
kuberpuisi untuknya.
Monday, April 2, 2012
Cinta Kasih Di Kedungtuban
Jam setengah
tiga malam, Sa’id menginjakkaan kaki di desanya. Suara binatang-binatang malam
menyambut kedatangannya bersama suara dari masjid dan musholla desa yang sudah
memutar rekaman lantunan ayat Quran Syekh Sudais untuk membangunkan warga
kampung yang masih tertidur pulas.
Sa’id
meletakkan tas besar dan kardusnya sembari menghirup nafas panjang. Matanya
terpejam, merasakan udara pagi yang menyegarkan pikiran. Dia menggerak-gerakkan
badannya. Melemaskan otot-ototnya yang kaku setelah berjam-jam berada dalam
bus.
Meski baru
dua bulan, aku sudah merindukan desa ini. Sudah lama tak menghirup udara
sesegar ini.
Dia menenteng
tas, berjalan ke rumahnya.
“Tok..tok...tok...
Subscribe to:
Posts (Atom)








